Archive for Mei 2020



Untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia Tahun Ajaran 2019/2020

Dibimbing oleh :

Bapak Muhammad Nuruddin Roni, S.Pd.

 

Sarekat Islam - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 


Disusun Oleh :
Dimas Prahastya         (XI IPS 2)
Gilang Febrian            (XI IPS 2)
Irzha Nur Alviah         (XI IPS 2)
Habib Arafad              (XI IPS 2)
M. Bayu Kurniawan   (XI IPS 2)
Zulfadillah                  (XI IPS 2)

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO
DINAS PENDIDIKAN
MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 KOTA PROBOLINGGO
Jl. Soekarno Hatta No. 255; Telepon (0335) 421842
KOTA PROBOLINGGO
TAHUN PELAJARAN 2019/2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. yang mana beliau telah memberikan berkat rahmat-Nya. Kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Bahasa Sejarah Indonesia Peminatan yaitu pembuatan karya makalah mengenani organisasi sarekat islam sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Tak lupa shalawat serta salam kami haturkan kepada baginda nabi besar Muhammad Saw. Yang telah membawa kami dari jaman jahiliyahmenuju jaman yang terang benderang seperti saat ini.
Dan kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Muhammad Nuruddin Roni, S.Pd  yang telah membimbing kami dalam membuat makalah sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Kami berharap makalah ini bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah  ini masih jauh dari sempurna, baik dari bentuk penyusun maupun materinya masih banyak kekurangan karena keterbatasan penulis.Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca akan sangat bermanfaat bagi penulis untuk penyempurnaannya sehingga lebih baik lagi dari sebelumnya


Probolinggo, 13 Mei 2020




Kelompok Penyusun








BAB I
PENDAHULUAN
Sarekat Islam - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 




Gambar 1.1
1.1  Latar Belakang
Mengkaji sejarah pergerakan kebangkitan  islam zaman pra kemerdekaan tidaklah mudah membutuhkan analisis yang komprenhensif serta kritis untuk mendapatkan hasil yang paling sahih (kuat), tak terkecuali membahas tentang sebuah pergerakan massa yang progresif dalam sejarahnya yakni sarekat islam. Organisasi ini sangat cepat pertumbuhannya pada zamannya dan bahkan melahirkan beberapa tokoh-tokoh besar yang kelak menjadi para pemimpin kemerdekaan dan bangsa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui awal dekade 1900 an bangsa Indonesia memasuki babak baru yakni perjuangan melawan pemerintah kolonial dengan sebuah organisasi massa. Maka dengan kondisi demikian pada gilirannya berakibat melahirkan dinamika idiologi sebuah perjuangan bangsa dan tanah air. Islam sebagai agama yang mengajarkan untuk bergerak dan berorganisasi tentu telah melahirkan tokoh-tokoh pejuang islam yang berangkat nilai perjuangannya dari dasar perintah agama.  
Tujuan perkumpulan organisasi ini awalnya adalah untuk menghimpun para pedagang Islam agar dapat bersaing dengan para pedagang asing seperti pedagang Tionghoa, India dan Arab. Mengapa demikian? Karena pada saat itu pedagang-pedagang tersebut lebih maju usahanya daripada pedagang Indonesia dan keadaan itu sengaja diciptakan oleh Belanda. Adanya perubahan sosial menimbulkan kesadaran kaum pribumi. Sebagai ikatan solidaritas dan lambang kelompok, perlu adanya ideologi gerakan. Pendiri Sarekat Islam, Haji Samanhudi adalah seorang pengusaha batik di Kampung Lawean (Solo) yang mempunyai banyak pekerja, sedangkan pengusaha-pengusaha batik lainnya adalah orang-orang Cina dan Arab. Maka dari  itu penulis berusaha untuk mencari sumber-sumber referensi untuk mengetahui perjuangan sarekat islam.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat dirumuskan suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1.        Bagaimana sejarah terbentuknya organisasi Sarekat Islam?
2.        Apa yang melatarbelakangi terbentuknya organisasi Sarekat Islam ?
3.        Bagaimana susunan kepengurusan organisasi Sarekat Islam?
4.        Bagaimana perkembangan organisasi Sarekat Islam?
5.        Apa saja visi dan misi dibentuknya organisasi Sarekat Islam?
6.        Siapa saja tokoh-tokoh organisasi Sarekat Islam?
7.        Bagaimana pengaruh organisasi Sarekat Islam dalam pergerakan nasional?

1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan dari dibentuknya makalah ini adalah sebagai berikut:
1.        Mengetahui sejarah terbentuknya organisasi Sarekat Islam.
2.        Mengetahui latar belakang terbentuknya organisasi Sarekat Islam.
3.        Mengetahui susunan kepengurusan organisasi Sarekat Islam.
4.        Mengetahui perkembangan organisasi Sarekat Islam.
5.        Mengetahui visi dan misi dibentuknya organisasi Sarekat Islam.
6.        Mengetahui tokoh-tokoh organisasi Sarekat Islam.
7.        Mengetahui pengaruh organisasi Sarekat Islam dalam pergerakan nasional.


1.4  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.        Bagi Penulis :
Dengan pembuatan makalah ini  sudah dapat melakukan dan memenuhi salah satu tugas di Unit Kegiatan Belajar Mandiri 4 (UKBM 4), kegiatan Belajar 2 (KB 2) mengenai Strategi Pergerakan Nasional, halaman 49.
2.        Bagi Pembaca :
Untuk memberi informasi dan referensi mengenai organisasi organisasi Pergerakan Nasional, yakni Sarekat Islam.
3.        Bagi Sekolah :
Mendorong kreativitas siswa dalam mengembangkan tugas dalam bentuk makalah.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1      Sejarah Berdirinya Organisasi Sarekat Islam
Syarikat Islam / Sarekat Islam (disingkat SI) dahulu bernama Sarekat Dagang Islam (disingkat SDI) didirikan oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16 Oktober 1905, Sarekat Dagang Islam merupakan organisasi pertama yang lahir di Indonesia, pada awalnya Organisasi Sarekat Islam yang dibentuk oleh Haji Samanhudi ini merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang masuknya pedagang asing yang ingin menguasai ekonomi rakyat. Pada tahun 1912 berkat keadaan politik dan sosial pada masa tersebut HOS Tjokroaminoto menggagas SDI untuk mengubah nama dan bermetamorfosis menjadi organisasi pergerakan yang hingga sekarang disebut Syarikat Islam, Hos Tjokroaminoto mengubah yuridiksi SDI lebih luas yang dulunya hanya mencakupi permasalahan sosial dan ekonomi. kearah politik dan Agama untuk menyumbangkan semangat perjuangan islam dalam semangat juang rakyat terhadap kolonialisme dan imperialisme pada masa itu.
2.2      Latar Belakang Dibentuknya Organisasi Sarekat Islam
Setelah berdirinya Budi Utomo,maka pada tahun 1911 didirikanlah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang awalnya  diberinama Sarekat  Dagang Islam (SDI) di kota Solo oleh Haji Samanhudi. Haji Samanhudi sendiri adalah seorang pengusaha batik di Kampung Lawean (Solo) yang mempunyai banyak pekerja. Perkumpulan ini semakin berkembang pesat ketika Tjokroaminoto memegang tampuk pimpinan dan mengubah nama perkumpulan itu menjadi Sarekat Islam.Kata “Dagang” dalam Serikat Dagang Islam dihilangkan dengan maksud agar ruang geraknya lebih luas tidak dalam bidang dagang saja.
Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri
Latar belakang dibentuknya perkumpulan ini adalah reaksi terhadap monopoli penjualan bahan baku oleh pedagang China yang dirasakan sangat merugikan pedagang Islam. Namun, para pendiri Sarekat Islam mendirikan organisasi itu bukan hanya untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Cina namun untuk membuat front melawan penghinaan terhadap rakyat bumi putera. Juga merupakan reaksi terhadap rencana krestenings politik (politik pengkristenan) dari kaum Zending,perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan-penindasan dari pihak ambtenar bumi putera dan Eropa.Pokok utama perlawanan Sarekat Islam ditujukan terhadap setiap bentuk penindasan.
Jadi dapat disimpulkan yang melatarbelakangi berdirinya Sarekat Islam(SI) yaitu :
Disebabkan oleh persaingan dagang yang sangat merugikan para pedagang pribumi. Persaingan perdagangan terjadi antara penduduk pribumi (islam) dengan pedagang-pedagang asing Tionghoa. Dari persaingan tersebut, para pedagang Tionghoa lebih berhasil atau lebih maju dari pada pedagang pribumi. Akhirnya pedagang Tionghoa memiliki status dan hak yang lebih tinggi dari pada pedagang pribumi. Hal tersebut kemudian dibiarkan saja, seolah dibuat-buat oleh Pemerintah Hindia Belanda, kesadaran para pedagang mulai bangkit dan membentuk sebuah organisasi yang bernama Sarekat Dagang Islam.
2.3      Struktur Kepengurusan Organisasi Sarekat Islam
Susunan kepengurusan Serikat Dagang Islam yang berdiri pada tanggal 27 Maret 1909 di Bogor :
a)      Presiden                      : Sjech Achmad bin Abdoelrachman Badjenet
b)      Wakil Presiden            : dr. Mohamad Dagrim
c)      Komisaris                    : Sjech Achmad bin Said Badjenet. Sjech Galib bin
d)     Said Tebe. Sjech Mohamad bin Badjenet, Mas Railoes, dan Haji Mohamad Arsad
e)      Kasir                            : Sjech Said bin Abdurrachman Badjenet
f)       Secretaries-Adviseur   :  R.M. Tirto Adhi Soerjo
2.4      Perkembangan Sarekat Islam
a)      Kongres-Kongres Awal
Kongres pertama diadakan pada bulan Januari 1913 di Surabaya. Kongres Serikat Islam pertama pada bulan Januari 1913 di Surabaya dengan hasil:
1)      Menegaskan bahwa Serikat Islam bukan partai politik,
2)      Serikat Islam tidak bermaksud melawan pemerintah Belanda,
3)      Memilih HOS Cokroaminoto sebagai ketua, dan
4)      Menetapkan Surabaya sebagai pusat Serikat Islam
Dalam kongres ini Tjokroaminoto menyatakan bahwa SI bertujuan untuk meningkatkan perdagangan antarbangsa Indonesia, membantu anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi serta mengembangkan kehidupan relijius dalam masyarakat Indonesia.
Kongres kedua diadakan di Surakarta yang menegaskan bahwa SI hanya terbuka bagi rakyat biasa. Para pegawai pemerintah tidak boleh menjadi anggota. 
Pada tanggal 17-24 Juni 1916 diadakan kongres SI yang ketiga di Bandung. Dalam kongres ini SI sudah mulai melontarkan pernyataan politiknya. SI bercita-cita menyatukan seluruh penduduk Indonesia sebagai suatu bangsa yang berdaulat (merdeka). 
Tahun 1917, SI mengadakan kongres yang keempat di Jakarta. Dalam kongres ini SI menegaskan ingin memperoleh pemerintahan sendiri (kemerdekaan). Dalam kongres ini SI mendesak pemerintah agar membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad). SI mencalonkan H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis sebagai wakilnya di Volksraad. Dalam Kongres SI Keempat tahun 1919, Sarekat Islam memperhatikan gerakan buruh dan Sarekat Pekerja karena hal ini dapat memperkuat kedudukan partai dalam menghadapi pemerintah kolonial. Namun dalam kongres ini pengaruh sosial komunis telah masuk ke tubuh Central Sarekat Islam (CSI) maupun cabang-cabangnya.
b)     Masuknya Pengaruh Komunisme
SI yang mengalami perkembangan pesat, kemudian mulai disusupi oleh paham sosialisme revolusioner. Paham ini disebarkan oleh H.J.F.M Sneevliet yang mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) pada tahun 1914. Pada mulanya ISDV sudah mencoba menyebarkan pengaruhnya, tetapi karena paham yang mereka anut tidak berakar di dalam masyarakat Indonesia melainkan diimpor dari Eropa oleh orang Belanda, sehingga usahanya kurang berhasil. Akhirnya organisasi yang didirikan orang Belanda di Indonesia ini tidak mendapat simpati rakyat, oleh karena itu diadakan “Gerakan Penyusupan” ke dalam tubuh Serikat Islam yang akhirnya berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh Serikat Islam muda seperti Semaun, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin.
Akibatnya banyak anggota Serikat Islam yang menjadi sosialis terutama Serikat Islam cabang Semarang. Sehingga mereka menggunakan taktik infiltrasi yang dikenal sebagai "Blok di dalam", mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh SI oleh karena dengan tujuan yang sama yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme namun dengan dasar dan cara yang berbeda(atheis-komunisme).
Dengan usaha yang baik, mereka berhasil memengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi "SI Putih" yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan "SI Merah" yang dipimpin Semaoen. SI merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme.
Adapun faktor-faktor yang mempermudah infiltrasi ISDV ke dalam tubuh SI antar lain:
1)      Centraal Sarekat Islam (CSI) sebagai badan koordinasi pusat memiliki kekuasaan yang lemah. Hal ini dikarenakan tiap cabang SI bertindak sendiri-sendiri. Pemimpin cabang memiliki pengaruh yang kuat untuk menentukan nasib cabangnya, dalam hal ini Semaoen adalah ketua SI Semarang.
2)      Peraturan partai pada waktu itu memperbolehkan keanggotaan multipartai, mengingat pada mulanya organisasi seperti Boedi Oetomo dan SI merupakan organisasi non-politik. Semaoen juga memimpin ISDV (PKI) dan berhasil meningkatkan anggotanya dari 1700 orang pada tahun 1916 menjadi 20.000 orang pada tahun 1917 di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua SI Semarang.
3)      Akibat dari Perang Dunia I, hasil panen padi yang jelek mengakibatkan membumbungnya harga-harga dan menurunnya upah karyawan perkebunan untuk mengimbangi kas pemerintah kolonial mengakibatkan dengan mudahnya rakyat memihak pada ISDV.
4)      Akibat kemiskinan yang semakin diderita rakyat semenjak Politik Pintu Terbuka (sistem liberal) dilaksanakan pemerintah kolonialis sejak tahun 1870 dan wabah pes yang melanda pada tahun 1917 di Semarang.
SI Putih (H. Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo) berhaluan kanan berpusat di kota Yogyakarta. Sedangkan SI Merah (Semaoen, Alimin, Darsono) berhaluan kiri berpusat di kota Semarang[8]. Sedangkan HOS Tjokroaminoto pada mulanya adalah penengah di antara kedua kubu tersebut.
Jurang antara SI Merah dan SI Putih semakin melebar saat keluarnya pernyataan Komintern (Partai Komunis Internasional) yang menentang cita-cita Pan-Islamisme. Pada saat kongres SI Maret 1921 di Yogyakarta, H. Fachruddin, Wakil Ketua Muhammadiyah mengedarkan brosur yang menyatakan bahwa Pan-Islamisme tidak akan tercapai bila tetap bekerja sama dengan komunis karena keduanya memang bertentangan. Di samping itu Agus Salim mengecam SI Semarang yang mendukung PKI. Darsono membalas kecaman tersebut dengan mengecam beleid (Belanda: kebijaksanaan) keuangan Tjokroaminoto. SI Semarang juga menentang pencampuran agama dan politik dalam SI. Oleh karena itu, Tjokroaminoto lebih condong ke SI haluan kanan (SI Putih).
c)      Penegakan Disiplin Partai
Pecahnya SI terjadi setelah Semaoen dan Darsono dikeluarkan dari organisasi. Hal ini ada kaitannya dengan desakan Abdul Muis dan Agus Salim pada kongres SI yang keenam 6-10 Oktober 1921 tentang perlunya disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap. Anggota SI harus memilih antara SI atau organisasi lain, dengan tujuan agar SI bersih dari unsur-unsur komunis. Hal ini dikhawatirkan oleh PKI sehingga Tan Malaka meminta pengecualian bagi PKI. Namun usaha ini tidak berhasil karena disiplin partai diterima dengan mayoritas suara. Saat itu anggota-anggota PSI dari Muhammadiyah (Kh. Ahmad dahlan) dan Persis (A.Hasan) pun turut pula dikeluarkan, karena disiplin partai yang tidak memperbolehkannya. Rupanya benih perpecahan semakin jelas dan dua aliran itu tidak dapat dipersatukan kembali. Karena aktifitas politiknya Belanda akhirnya menangkap Tjokro pada tahun 1921 karena di fitnah pemerintah colonial padahal sejatinya dikhawatirkan akan membangkitkan semangat perjuangan rakyat pribumi walaupun akhirnya dibebaskan pada tahun 1922, sebuah cobaan yang lazim diterima para penegak syariat islam di seluruh dunia.
Sebagai seorang pemimpin, wajar jika Tjokroaminoto punya banyak murid, di antaranya adalah Soekarno, Muso, Alimin, Kartosoewirjo, Buya Hamka, Abikoesno, dan banyak lagi. Para anak didik Pak Tjokro ini kelak akan menjelma sebagai pemimpin-pemimpin baru bangsa Indonesia. Seperti Soekarno yang Nasionalis, SM kartosuwirjo yang Islamis Dan Muso-Alimin yang Komunis. Perbedaan idiologi dari murid – muridnya tersebut secara tidak langsung memberikan warna sendiri bagaimana secara aktif ide-ide, ilmu dan gagasan Cokro menghujam ke dada idiologi mereka. Walaupun dengan pemahaman yang beraneka ragam sesuai dengan latar belakang, pendidikan dan pekerjaanya masing masing. Jadi, pertarungan Soekarno, Kartosuwirjo dan Muso-alimin sejatinya adalah pertarungan tiga murid dari seorang guru Tjokroaminoto.
Hal ini mengisyaratkan bahwa adanya perbedaan tafsir para murid terhadap guru dan kemudian mendorong kecenderungan yang berbeda pula. Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam yang diselenggarakan tahun 1921 dibicarakan masalah disiplin partai. Agus salim (Wakil Ketua CSI) yang menjadi pejabat Ketua CSI menggantikan Tjokroaminoto yang masih berada di dalam penjara, memimpin kongres tersebut. Akhirnya Kongres tersebut mengeluarkan ketetapan aturan Disiplin Partai. Artinya, dengan dikeluarkannya aturan tersebut, golongan komunis yang diwakili oleh Semaun dan Darsono, dikeluarkan dari Sarekat Islam. Dengan pemecatan Semaun dari Sarekat Islam, maka Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu Sarekat Islam Putih yang berasaskan kebangsaan keagamaan di bawah pimpinan Tjokroaminoto dan Sarekat Islam Merah yang berasaskan komunis di bawah pimpinan Semaun yang berpusat di Semarang. Keputusan mengenai disiplin partai diperkuat lagi dalam kongres SI di Madiun pada bulan Februari 1923. Dalam kongres Tjokroaminoto memusatkan tentang peningkatan pendidikan kader SI dalam memperkuat organisasi dan pengubahan nama CSI menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Pada kongres PKI bulan Maret 1923, PKI memutuskan menggerakkan SI Merah untuk menandingi SI Putih. Pada tahun 1924, SI Merah berganti nama menjadi "Sarekat Rakyat".
Kejadian-kejadian penting yang dialami Sarekat Islam pada Tahun 1923, antara lain:
1)      Meninggalkan politik bekerja sama (= cooperation) dengan pemerintah Belanda.
2)      Berubah menjadi suatu partai politik dengan nama Partai Serikat Islam ( = PSI).
3)      Serikat Islam (SI), daerah yang jumlahnya banyak sekali itu menjadi bagian dan PSI yang  meliputi seluruh wilayah Indonesia. 
Pada kongres PSI tahun 1929 menyatakan bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemedekaan nasional. Karena tujuannya yang jelas itulah PSI ditambah namanya dengan Indonesia sehingga menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Pada tahun itu juga PSII menggabungkan diri dengan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) . Akibat keragaman cara pandang di antara anggota partai, PSII pecah menjadi beberapa partai politik, di antaranya Partai Islam Indonesia dipimpin Sukiman, PSII Kartosuwiryo, PSII Abikusno. Perpecahan itu melemahkan PSII dalam perjuangannya. Pada Pemilu 1955 PSII menjadi peserta dan mendapatkan 8 (delapan) kursi parlemen. Kemudian pada Pemilu 1971 pada zaman Orde Baru, PSII di bawah kepemimpinan H. Anwar Tjokroaminoto kembali menjadi peserta bersama sembilan partai politik lainnya dan berhasil mendudukkan wakilnya di DPR-RI sejumlah 12 (dua belas orang).
2.5      Visi dan misi Organisasi Sarekat Islam
Memajukan semangat dagang bangsa, memajukan kecerdasan rakyat dan hidup menurut perintah agama dan menghilangkan faham-faham keliru mengenai agama Islam.
Tujuan utama SI pada awal berdirinya adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang Islam Jawa. Keadaan hubungan yang tidak harmonis antara Jawa dan Cina mendorong pedagang-pedagang Jawa untuk bersatu menghadapi pedagang-pedagang Cina. Di samping itu agama Islam merupakan faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang-pedagang Islam.
2.6      Tokoh-tokoh Organisasi Sarekat Islam
a)      Kiai Haji Samanhudi
Gambar 2.1
 
Satrio Arismunandar - Bangkitlah Indonesia!: Haji Samanhudi ...Kiai Haji Samanhudi nama kecilnya ialah Sudarno Nadi. Adalah seorang anak dari pedagang batik bernama haji muhammadzein.keluarga ini pindah ke lawiyan, solo. Setelah menyelesaikan studinya di sekolah kelas dua, samanhudi membantu ayahnya erjualan batik sampai ia dapat berdiri sendiri dengan membuka perusahaan batik pada tahun 1888. Ia berhasil dalam bidang ini sehingga ia membuka cabang-cabang perusahaannya di berbagai kota di jawa seperti Surabaya, banyuwangi, tulung agung, bandung dan parakan. Pada tahun 1904 pergi ke Mekkah untuk naik haji dan kembali pada tahun berikutnya Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa penjajahan Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Cina pada tahun 1911. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1911, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.Ia dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo.Sesudah itu, Serikat Islam dipimpin oleh Haji Oemar Said Cokroaminito.



b)     H.O.S. Cokroaminoto
Gambar 2.2
 
Resensi Buku: Perlawanan Ideologi Priyayi Jawa Program Studi S2 ...Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Cokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Cokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Cokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu merupakan keluarga yang taat beragama.  Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, ia mempunyai beberapa murid yang selanjutnya memberikan warna bagi sejarah pergerakan Indonesia, yaitu Musso yang sosialis/komunis, Soekarno yang nasionalis, dan Kartosuwiryo yang agamis. Namun ketiga muridnya itu saling berselisih. Setelah menyelesaikan sekolah administasi pemerintahan di Magelang, ia menjadi seorang juru tulis pada patih Ngawi selama tiga tahun. Ia kemudian menjadi Patih kemudian meninggalkan pekerjaan itu dan pindah ke Surabaya. Ia mengikuti kursus-kursus malam dalam soal teknik mesin untuk tiga tahun lamanya antara tahun 1907 sampai 1910 dan bekerja sebagai pegawai pada sebuah pabrik gula di luar kota Surabaya pada tahun 1911-1912.  Ketika ia didatangi oleh delegasi dari srekt islam Solo untuk bergabung dengan organisasi ini Tjokroaminoto telah terkenal dengan sikapnya yang radikal dengan menentang kebiasaan-kebiasaan yang memalukan bagi rakyat banyak. Ia terkenal sebagai seorang yang menganggap dirinya sama sederajat dengan pihak manapun juga, apakah dengan seorang Belanda ataupun seorang pejabat pemerintah. Dia berkeinginan sekali untuk melihat sikap  ini juga oleh kawan sebangsanya terutama di dalam berhubungan dengan orang-orang asing. Ia sering disebut orang Gatotkoco sarekat Islam.  Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bergabung dengan organisasi Sarekat Islam. Cokroamonoto bergabung dengan sarekat islam di Surabaya atas ajakan dari pendiri sarekat islam sendiri yakni haji haji samanhoeddhi yang memang mencari orang-orang yang telah pernah mendapat pendidikan yang lebih baik dan lebih berpengalaman untuk memperkuat organisasinya. Selanjutnya Tjokroaminoto langsung menyusun sebuah anggaran dasar baru bagi organisasi itu bagi seluruh Indonesia dan meminta pengakuan dari pemerintah untuk menghindarkan diri  dari apa yang disebutkan "pengawasan preventif dan represif secara administrative". Dengan berbagai alasan pemerintah belanda menolak untuk memenuhi permintaan tadi, tetapi organisasi setempat yang memiliki sifat yang sama dipertimbangkan oleh belanda, sehingga cabang-cabang sarekat islam dikisaran jawa yang memenuhi kriteria menurut sistem  belanda kemudian mengajukan permintaan untuk pengakuan akhirnya diberikan. Keputusan pemerintah yang tidak mengakui pusat sarekat islam yang menaungi cabang-cabang tentu saja mengganggu struktur oganisasi dari sarekat islam yang menuurut kongresnya yang pertama di Surabaya bulan januari 1913 memang menekankan kegiatan yang bersiat menyeluruh untuk semua cabang di tanah air. Sebagai pimpinan Sarikat Islam, HOS dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang tegas namun bersahaja. Kemampuannya berdagang menjadikannya seorang guru yang disegani karena mengetahui tatakrama dengan budaya yang beragam. Pergerakan SI yang pada awalnya sebagai bentuk protes atas para pedagang asing yang tergabung sebagai Sarekat Dagang Islam yang oleh HOS dianggap sebagai organisasi yang terlalu mementingkan perdagangan tanpa mengambil daya tawar pada bidang politik. Seiring perjalanannya, SI digiring menjadi partai politik setelah mendapatkan status Badan Hukum pada 10 September 1912 oleh pemerintah yang saat itu dikontrol oleh Gubernur Jenderal Idenburg. SI kemudian berkembang menjadi parpol dengan keanggotaan yang tidak terbatas pada pedagang dan rakyat Jawa-Madura saja.  Perpecahan SI menjadi dua kubu karena masuknya infiltrasi komunisme memaksa HOS Cokroaminoto untuk bertindak lebih hati-hati kala itu. Perepecahan yang terjadi dalam kubu sarekat islam karena beberapa faktor salah satunya ialah penangkapn oleh pemerinth kolonial belanda terhadap Tjokroaminoto yang memberi peluang bagi para petinggi sarekat islam yang berhaluan marxis untuk mengamil alih politik dalamorganisasi ini. Ia bersama rekan-rekannya yang masih percaya bersatu dalam kubu SI Putih berlawanan dengan Semaun yang berhasil membujuk tokoh-tokoh pemuda saat itu seperti Alimin, Tan Malaka, dan Darsono dalam kubu SI Merah. Namun bagaimanapun, kewibaan HOS Cokroaminoto justru dibutuhkan sebagai penengah di antara kedua pecahan SI tersebut, mengingat ia masih dianggap guru oleh Semaun. Singkat cerita jurang antara SI Merah dan SI Putih semakin lebar saat muncul pernyataan Komintern (Partai Komunis Internasional) yang menentang Pan-Islamisme (apa yang selalu menjadi aliran HOS dan rekan-rekannya).  Hal ini mendorong Muhammadiyah pada Kongres Maret 1921 di Yogyakarta untuk mendesak SI agar segera melepas SI merah dan Semaun karena memang sudah berbeda aliran dengan Sarekat Islam. Akhirnya Semaun dan Darsono dikeluarkan dari SI. H.O.S. Cokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada 17 Desember 1934 pada usia 52 tahun. Tjokroaminoto dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta, setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres SI di Banjarmasin. Salah satu kata mutiara darinya yang masyhur adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan.



c)      Semaun
Gambar 2.3
 
Semaun - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasSemaun (lahir di Curahmalang, kecamatan Sumobito, termasuk dalam kawedanan Mojoagung, kabupaten Jombang, Jawa Timur sekitar tahun 1899 dan wafat pada tahun 1971). Adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI). Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Pengua saan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu. Sementara itu pengaruh Semaun menjalar ke tubuh SI. Ia berpendapat bahwa pertentangan yang terjadi bukan antara penjajah-penjajah, tetapi antara kapitalis-buruh. Oleh karena itu, perlu memobilisasikan kekuatan buruh dan tani disamping tetap memperluas pengajaran Islam. Dalam Kongres SI Keempat tahun 1919, Sarekat Islam memperhatikan gerakan buruh dan Sarekat Sekerja karena hal ini dapat memperkuat kedudukan partai dalam menghadapi pemerintah kolonial. Namun dalam kongres ini pengaruh sosial komunis telah masuk ke tubuh Central Sarekat Islam (CSI) maupun cabang-cabangnya. Dalam Kongres Sarekat Islam kelima tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan Central Sarekat Islam yang menimbulkan perpecahan. Rupanya benih perpecahan semakin jelas dan dua aliran itu tidak dapat dipersatukan kembali. Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam yang diselenggarakan tahun 1921 dibicarakan masalah disiplin partai. Abdul Muis (Wakil Ketua CSI) yang menjadi pejabat Ketua CSI menggantikan Tjokroaminoto yang masih berada di dalam penjara, memimpin kongres tersebut. Akhirnya Kongres tersebut mengeluarkan ketetapan aturan Disiplin Partai. Artinya, dengan dikeluarkannya aturan tersebut, golongan komunis yang diwakili oleh Semaun dan Darsono, dikeluarkan dari Sarekat Islam. Dengan pemecatan Semaun dari Sarekat Islam, maka Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu Sarekat Islam Putih yang berasaskan kebangsaan keagamaan di bawah pimpinan Tjokroaminoto dan Sarekat Islam Merah yang berasaskan komunis di bawah pimpinan Semaun yang berpusat di Semarang. Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaun adalah figur termuda dalam organisasi. Di tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial. Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen. Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaun mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaun mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil. Masa kecil Semaun adalah anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api. Meskipun bukan anak orang kaya maupun priayi, Semaoen berhasil masuk ke sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore hari. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Karena itu, ia kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis (klerk) kecil. Politik Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu. Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen. Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya. Pada bulan Mei 1921, ketika Partai Komunis Indonesia didirikan setelah pendiri ISDV dideportasi, Semaun menjadi ketua pertama. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil. Pada tahun 1917, di Semarang, seorang komunis muda berusia 19 tahun berhasil merebut kepemimpinan Sarekat Islam (S) di Semarang. Pemuda itu bernama Semaun. Ketika SI Semarang masih di bawah pengurus lama, Moehammad Joesoef, pendukungnya sebagian besar berasal dari kaum menengah dan pegawai. Begitu Semaun mengambi kepemimpinanan, sebagian besar pendukung SI Semarang berasal dari kaum buruh dan rakyat kecil. Semaun membangun partainya dengan berpijak pada kenyataan yang hidup di sekitarnya. Dengan begitu, Ia membangun propagandanya berdasarkan kenyataan-kenyataan sosial yang terhampar di depannya, seperti persoalan agraria, wabah pes, Indie Weebaar. Di tangannya, marxisme diterjemahkan dalam keadaan-keadaan khusus di sekitarnya. Pada tahun 1921, terjadi keretakan antara SI-PKI akibat serangan pribadi Darsono terhadap pimpinan SI, termasuk Tjokroaminoto. Situasi itu dimanfaatkan sayap konservatif SI untuk mendorong disiplin partai dan menendang keluar sayap kiri. Namun, Semaun getol menyerukan persatuan diantara kedua golongan guna mengakhiri keretakan itu. Kebijakan Semaun didukung oleh penggantinya, Tan Malaka, yang menganggap perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Ia mengimpikan sebuah kerjasama seperti Kongres Nasional di India, yang bisa menyatukan semua faksi untuk melawan imperialisme. Anak didik Sneevliet ini bernama Semaun, salah satu kader komunisme yang berperan besar menurnbuhkan gerakan ini di Indonesia. Semaun adalah tokoh yang menggerakkan rnassa buruh untuk melakukan pernogokan besar-besaran, yang merongrong perekonomian Hindia Belanda pada dekade 1920-an. Kiprahnya tidak sebatas sebagai tokoh "Sarekat Islam yang berhaluan komunis", seperti yang dikatakan sejarah Orde Baru, tetapi juga aktivis buruh yang ditakuti oleh Belanda. Bersama Tan Malaka, Semaun memperkenalkan cara agresi pemogokan buruh. Selama satu abad penuh, pernogokan rnerajalela di Hindia Belanda hingga rnembuat pemerintahan kolonial kerepotan dan rugi besar. Sarekat Islam (SI). Paksi dalam SI yang berhaluan komunis kemudian dikenal dengan nama SI merah Organisasi yang dimotori Haji samanhudi dan Tjokroaminoto, akhirnya bisa diruntuhkan dari dalam. Tanpa disadari, keputusan untuk mengangkat semaun sebagai Presiden Sarekat Islam Semarang, pada 6 Mei 1917, menjadi awal dari bencana. Sosialisme dan komunisme tanpa disadari telah menjadi jamur yang tumbuh dengan cepat di SI. Anggota SI dari kalangan buruh dan rakyat kecil kemudian memisahkan diri dari SI. 4.      Abdul Muis Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883. Ia menyelesaikan pendidikanya di sekolah belanda di bukittinggi. Ia juga merupakan keturunan bangsawan yang kuat beragama. – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 mewakili Centraal Sarekat Islam. Abdul muis bergabung dengan central sarekat islam atas permintaan cokroaminoto yang melihat dia sebagai  seorang Indonesia yan erpendidikan dan pengalaman yang dapat diharapkan dengan sikap radikal pula terhadap ketidak adilan dn segala macam penderitaan orang-orang Indonesia, sifat-sifat yang sangat diperlukan pada masa itu untuk mebina gerakan tersebut. Kepemimpinan muis terlihat enanjak dan pada1916 ia menjadi wakil presiden central sarekat islam. Ia dan salim merupakan benteng dalam lingkungan sarekat islam terhadap penetrasi komunis pada masa periode kedua. Tetapi pada periode ketiga kedudukannya menurun sedangkan kedudukan salim bertambah menanjak. Namun kepemimpinan cokroaminto tidak tergoyah sama sekali.       Pada Kongres Sarekat Islam Ketujuh tahun 1923 di Madiun diputuskan bahwa Central Sarekat Islam digantikan menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). dan cabang Sarekat Islam yang mendapat pengaruh komunis menyatakan diri bernaung dalam Sarekat Rakyat yang merupakan organisasi di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri. Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).
d)     Kyai Haji Agus Salim
Gambar 2.4
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9BNO1luKrqa73fPa2vFowSibgCVd4lvqcI2fbBHg1aP7Wa4xYrSO2djA90rWD7TGxrn754H7u4u2CDMsu6CBPU5_ilnG5MLHPh-bdIiJi9batcDoPt8znI9FgznsVKZTx1NuQtd5vfJw/s640/haji+agus+salim.jpgTokoh-tokoh lain yang dianggap penting dalam perjuangan sarekat islam adalah KH. Agus Salim. Ia dilahirkan di kota kedang Bukittinggi pada 8 oktober 1884 sebagai seorang anak dari pejabat pemerintah yang juga berasal dari kalagan bangsawan dan agama, salim menyelesaikan pelajaran sekolah menengahnya (HBS) di Jakarta dan kemudian bekerja pada konsulat belanda di Jeddah tahun 1906 sampai 1909. Perkenalan ia dalam sarekat islam amatlah ganjil, dia mendapat kabar dari seorang polisi belanda yang menyatakan bahwa cokroaminoto telah menjual sarekat islam kepada jerman dengan harga 150.000 poundsterling, dengan menggunakan uang itu I akan membangunkan pemberontakan besar di jawa, dan akan mendapat antuan persenjataan dari jerman. Dari kabar tersebut dia menyimpulkan dua hal, yang pertama kabar itu h anya bohong belaka. Yang kedua jika kabar itu benar maka akan menjadi yang besar bagi negeri dan rakyat. Lalu dia melakukan penyelidikan dan berkenalan dengan pemimpinnya yakni cokroaminoto, hiingga ia mengetahui tujuan mulia dari sarekat islam ang menyebabkan salim menjadi seorang anggota sarekat islam.
2.7      Pengaruh Serikat Islam dalam Pergerakan Nasional
Dalam Sarekat Islam pun terdapat beberapa program kerja, program kerja dibagi atas delapan bagian yaitu: Mengenai politik Sarekat Islam menuntut didirikannya dewan-dewan daerah, perluasan hak-hak Volksraad dengan tujuan untuk mentransformasikan menjadi suatu lembaga perwakilan yang sesungguhnya untuk legelatif. Sarekat Islam juga menuntut penghapusan kerja paksa dan sistim izin untuk bepergian.
Pengaruh Serikat Islam di berbagai bidang sebagai berikut:
a)      Dalam bidang pendidikan, Serikat Islam menuntut penghapusan peraturan diskriminatif dalam penerimaan murid di sekolah-sekolah.
b)      Dalam bidang agama, Serikat Islampun menuntut dihapuskannya segala peraturan dan undang-undang yang menghambat tersiarnya agama Islam.
c)      Dalam bidang politik  Sarekat Islam juga menuntut pemisahan lembaga kekuasaan yudikatif dan eksekutif dan menganggap perlu dibangun suatu hukum yang sama bagi menegakkan hak-hak yang sama di antara penduduk negeri. Partai juga menuntut perbaikan di bidang agraria dan pertanian dengan menghapuskan particuliere landerijen (milik tuan tanah) serta menasonalisasi industri-industri monopolistik yang menyangkut pelayanan dan barang-barang pokok kebutuhan rakyat banyak.
d)     Dalam bidang keuangan SI menuntut adanya pajak-pajak berdasar proporsional serta pajak-pajak yang dipungut terhadap laba perkebunan. Kemudian Serikat Islam inipun menuntut pemerintah untuk memerangi minuman keras dan candu, perjudian, prostitusi dan melarang penggunaan tenaga anak-anak serta membuat peraturan perburuhan yang menjaga kepentingan para pekerja dan menambah poliklinik dengan gratis.
Serikat Islam meratakan kesadaran Nasional terhadap seluruh lapisan masyarakat, baik itu lapisan masyarakat atas maupun lapisan masyarakat tengah, dan rakyat biasa di seluruh Indonesia, terutama melalui Kongres Nasional Sentral Islam di Bandung pada 1916. Pada periode awal perkembanganya, Sarekat Islam dapat memobilisasi massa dengan sangat baik, hal iti terbukti pada empat tahun berjalannya Serikat Islam yang telah memiliki anggota sebanyak 360.000 orang, kemudian menjelang tahun 1919, anggotanya telah mencapai hampir dua setengah juta orang. Para pendiri Serikat Islam mendirikan organisasinya ini tidak hanya untuk mengadakan perlawanan terhadap orang–orang Cina, tetapi untuk membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera. Oleh karena itu, Serikat Islam berhasil mencapai lapisan bawah masyarakat yang berabad–abad hampir tidak mengalami perubahan dan paling banyak menderita.
BAB III
KESIMPULAN
Organisasi Serikat Islam pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Untuk memajukan para pedagang islam yang selama ini dibawah para pedagang belanda yang di dukung belanda (politik Devide et impera = adu domba) Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Serikat Islam (SI) berdiri tahun 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi ini lebih dulu 3 tahun sebelum adanya Budi Utomo yang baru berdiri 20 Mei 1908, dimana perkumpulan BU ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Menurut Abdul Azis Thaba, MA. dalam bukunya “Islam dan Negara” terjadi pada tanggal 11 November 1911 dalam suatu pertemuan di Solo berubah menjadi Sarekat Islam.
Sarekat Islam bercita-citakan kemerdekaan Islam Raya dan Indonesia Raya. Misi Sarekat Islam bersikap non-kooperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda, Sarekat Islam bersifat kerakyatan (tidak hanya kaum ningrat tapi juga rakyat jelata), terbuka bagi semua rakyat Indonesia (tidak hanya Jawa dan Madura) yang mayoritas Islam, membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya. Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri. Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan bahwa tujuan/visi perjuangan adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Rapat besar itu dihadiri 15 cabang SI, tiga belas di antaranya mewakili 80.000 orang anggota. Kongres resmi perdana SI sendiri baru terlaksana pada 25 januari 1913 di Surabaya di mana Tjokroaminoto terpilih menjadi ketua mendampingi Hadji Samanhoedi. Dalam posisi ketua inilah Tjokro mulai menanamkan pengaruhnya.
Kongres SI ke-II di Yogyakarta pada 19-20 April 1914 melejitkan nama Tjokroaminoto sebagai Ketua CSI menggantikan Hj Samanhoedi dalam usia yang masih muda 31 tahun. Di tangan Tjokro, SI mewujud menjadi organisasi politik pertama terbesar di Nusantara. Pada 1914, anggota resminya mencapai 400.000 orang, sedangkan tahun 1916 terhitung 860.000 orang. Tahun 1917 sempat menurun menjadi 825.000, pada 1918 bahkan merosot lebih drastis lagi hingga pada kisaran 450.000, namun setahun berikutnya, tahun 1919, keanggotaan SI melesat sampai 2.500.000 orang. Bahkan Lenin pada waktu itu memberikan apresiasi terhadap perkembangan organisasi berbasis islam ini.
Sarekat Islam berjuang melawan penjajahan demi memperjuangkan kemerdekaan Islam dan Indonesia sehingga banyak anggotanya yang berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Banyak tokoh yang ada didalam sarekat islam selain para pemimpin yang di bahas di pembahasan ini. diantaranya : Soekarno, Semaun, Musso, SM,Kartosuwiryo, Kh. Ahmad dahlan, KH Hasyim asyari, A. Hasan, Abi kusno dll.
                                                        DAFTAR PUSTAKA
http://www.markijar.com/2015/06/sejarah-lengkap-sarekat-islam-si.html?m=1 Sejarah Sarekat Islam diakses pada Kamis, 14 Mei 2020, pukul 10.11
http://fikrihe.blogspot.com/2015/03/latar-belakang-sarekat-islam.html?m=1 Latar Belakang Sarekat Islam diakses pada Rabu, 13 Mei 2020, pukul 14.56 WIB
https://ekyd.blogspot.com/2017/03/makalah-sarikat-dagang-islam.html Struktur Kepengurusan Serikat Islam diakses pada Kamis, 14 Mei 2020, pukul 15.20 WIB
http://rizkyunsursankar2.blogspot.com/2015/12/pergerakan-sarekat-islam.html Perkembanagan Serikat Islam diakses pada Kamis, 14 Mei 2020, pukul 15.30 WIB
http://wartasejarah.blogspot.com/2014/06/tokoh-yang-berpengaruh-dalam-sarekat.html Tokoh-tokoh Serikat Islam diakses pada Kamis, 14 Mei 2020, pukul 20.30 WIB
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/f7/Semaoen.jpg gambar 2.3 diakses pada Kamis, 14 Mei 2020, pukul 20.44 WIB


















- Copyright © Zha's Blogger - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -